Mungkin banyak diantara kita semua yang bingung dan bertanya apa itu
Campursari? Campursari adalah musik tradisional masyarakat jawa. Musik
ini diperkirakan lahir pada dekade "60-an di daerah Jawa Tengah. Musik
campursasri dimainkan dengan alat musik gamelan yang terdiri dari:
Slenthem, Peking, Kendang, Gong, Bonang/tidak semua bagian, di tambah
suling. Untuk melengkapi khasanah musiknya, gamelan tersebut dipadukan
dengan alat musik modern seperti: gitar dan keyboard.
Pada awal kemunculan musik campursari sempat menimbulkan pertentangan
dengan pegiat kesenian yang lain. Hal ini dianggap menurunkan citra
keagungan kesenian tradisonal jawa yang terkenal dengan kebudayaan
keratonnya yang adiluhung.
Musik campursari mulai terkenal seiring meroketnya nama Waldjinah dan
Manthous ( Sumanto-red ) pada awal berkembangnya dulu. Manthous yang
mengusung bendera CSGK ( Campur Sari Gunung Kidul ) merupakan musisi
campursari yang terkenal. Pria yang lahir pada tahun 1950 ini menelurkan
sejumlah lagu, namun yang fenomenal adalah kutut manggung. Sayang
karir musiknya meredup setelah dia mengidap stroke.
Setelah Manthous mulai menurun pamornya, muncul beberapa musisi
campursari yang terkenal kemudian. Nama-nama Didi Kempot, Sonny Joss,
Cak Diqin sampai penyanyi campursari baru seperti Soimah bergantian
menghiasi blantika musik campursari.
Didi kempot pria kelahiran 31 desember 1966 ini membuat citra musik
campursari semakin meroket. Pria asal kota Solo tersebut sampai saat ini
merupakan penyanyi campursari paling produktif. Sampai hari ini Didi
Kempot telah menghasilkan sekitar 72 album ( Berdasarkan wawancaranya
beberapa lalu di acara talk show Pas Mantab trans 7 ). Lagunya yang
cukup terkenal antara lain: Sewu Kutha, Stasiun Balapan, Tirtonadi,
Tanjung Mas Ninggal Janji, Taman jurug, Pak rebo, Cucak Rawa dan masih
banyak lagi. Sampai hari ini Didi telah melanglang ke beberapa negara
seperti Hawai, Suriname, Belanda dan masih banyak lagi untuk
memperkenalkan musik Campursari ke penjuru dunia. Selain itu Didi Kempot
yang merupakan adik dari Mamiek Srimulat juga berkolaborasi dan
menggubah musik lain untuk dijadikan lagu campursari. Dia pernah
kolaborasi sama Dedy Dores dan menggubah lagu dari Peterpan.
Satu nama penyanyi baru di blantika campursari yang cukup menarik
perhatian adala Soimah. Wanita kelahiran Pati, 29 september 1980 ini
berani melakukan terobosan di ranah musik campurasari. Soimah memadukan
musik campur sari dengan Hip hop, tepatnya dengan kelompok hip hop
Jogja. Hip hop Jogja sendiri merupakan penyanyi hip-hop dengan
spesialisasi menyanyikan lagu jawa.
Karena merakyatnya musik campursari di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur
itu, maka tak jarang musik ini juga digunakan oleh para politikus untuk
menjaring masa pada saat pemili dan pemilukada. Bahkan di Jateng
beberapa pasangan kandidat Gubernur-Wakil Gubernur berlomba menggubah
syair lagu campursari untuk theme song kampanyenya.
Perkembangan musik campursari sebagai musik rakyat kecil tak lepas dari
pengangkatan tema yang simple dan dekat dengan masyarakat kecil. Karena
itu tak jarang Campursari diidentikkan dengan musiknya kaum
marjinal/rakyat jelata. Tema yang diangkat untuk lagu campursari mulai
dari cinta dan kesedihan, tentang wong cilik, tentang menikmati hidup.
Tak heran kenapa musik ini begitu merakyat dan hampir selalu hadir di
acara-acara hajatan rakyat biasa.
Dalam prakteknya musik campursari cenderung menggunakan bahasa
sehari-hari untuk bahasa lagunya. Tidak seperti langgam jawa yang
menggunakan bahasa kesusatraan jawa, Campursari menggunakan bahasa umum
di masyarakat atau istilahnya bahasa pasaran. Sehingga bagi kita yang
mendengarkan lagu campursari tidak harus berpikir terlalu dalam untuk
mengetahui makna dari lagu tersebut.
Selain itu lagu campursari banyak sekali mengangkat kisah hidup wong
cilik. Kisah bagaimana susahnya rakyat kecil mencari kerjaan, memenuhi
hajat hidupnya. Ataupun bagaimana dalam sebuah lagu kita bisa menangkap
kesan kesederhanaan yang terpancar di dalamnya seperti contohnya lagu
Kuncung yang dinyanyikan Didi Kempot.
Dalam lirik lagu campursari kadang juga kita temukan kesederhanaan pola pikir dengan bahasa yang gamblang. Semisal syair lagu "aku milih liyane, ora sudi milih kowe, nganggur ora nyambut gawa, paling2 dadi kere” syair
lagu ini artinya sangat sederhana, Aku memilih yang lain, gak mau
memilih kamu, pengangguran yang tak punya kerjaan. Simple memandang
sesuatu banget.
Lagu Campursari juga sering bercerita tentang kisah cinta yang mendayu-dayu. Seperti nampak pada syair lagu sewu kutha " Sewu
kutha uwes tak liwati, Sewu ati tak takoki, Nanging kabeh podo ra
ngerteni, lungamu nang endi' pirang tahun anggonku nganteni, semono rung
bisa nemoni" yang artinya Seribu kota telah kulewati, Seribu
hati telah kutanya, Tapi semua tiada yang tahu, Pergimu ke mana, Entah
berapa tahun kumenanti, Sampai sekarang belum bisa menemukan. Sangat
sederhana dan gampang mencerna kalimatnya kan.
Sejauh ini perkembangan campursari masih sangat bagus. Beberapa
perlombaan diadakan untuk menjaring bibit penyanyi baru. Tak hanya itu,
penyanya campursari tak segan untuk mengeksplor musik campursari dengan
jenis musik lainnya. Bahkan di daerah Jawa Timur musik campursari
dikolaborasikan dengan dangdut koplo, meski sayangnya malah terkesan
merusak ruh lagu tersebut dengan masuknya tarian erotis di dalamnya.
Kendang Kempul
Di Jawa Timur berkembang pula musik etnic yang hampir mirip dengan
campursari, yakni musik kendang kempul yang berkembang di Banyuwangi dan
sekitarnya. Musik ini hampir berbarengan munculnya dengan campursari.
Namun alat musik yang digunakan hanya Kendang, Kempul dan suling yang
digabungkan dengan gitar dan keyboard serta seringkali juga biola.
Musik kendang kempul ini selain berkembang di Banyuwangi, juga merambah
ke daerah sekitarnya. Sebut saja Jember, Bondowoso, Situbondo,
Probolinggo dan sekitarnya. Tak jarang lagu-lagu kendang kempul
dinyanyikan ulang dengan versi dangdut oleh Orkes Palapa dan Monata.
Nama-nama penyanyi kendang kempul yang terkenal antara lain Sumiati,
Alif S, Pelawak Cahyono, Emilia Contessa. Dari generasi yang lebih muda
muncul nama Niken Arisandi, Catur ARum, Dyan Ratih, Renny Farida,
Adestya Mayasari dan masih banyak lagi.
Pada perkembangannya musik ini juga tercampur dengan dangdut versi
koplo. Masuknya unsur koplo ini juga menimbulkan pertentangan di antara
pegiat seni kendang kempul. Banyak pencipta lagu yang tidak mau lagunya
dinyanyikan dengan versi Kendang kempul Koplo, meski dengan royalti yang
besar.
Selain itu pada perkembangannya, selain unsur dangdut koplo. Kendang
kempul juga mulai mencoba dikolaborasikan dengan beberapa musik yang
terkenal sebut saja musik reaggea dan beberapa musik lainnya. Bahkan
penyanyi sekaliber Nini Karlina dan Ikke Nurjannah pun pernah menggubah
lagu Banyuwangi untuk album dangdut mereka.
Kesamaan dari kedua musik yang berkembang di jawa itu sama-sama kental
bercerita tentang masalah hidup wong cilik, masalah cinta, masalah
menikmati hidup dan juga nasehat yang sering disisipkan dalam syair
lagunya.
Mari kita lestarikan musik etnik kita masing-masing. Jangan sampai tergerus oleh kemajuan jaman.
Senin, 20 Februari 2012
Sejarah Perjalanan Musik dangdut Indonesia
Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.
Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu.
Berikut adalah nama-nama beberapa tokoh penyanyi dan pencipta lagu dangdut populer yang dibagi dalam tiga kelompok kronologis, sesuai dengan perkembangan musik dangdut:
Pra-1970-an
Husein Bawafie
Munif Bahaswan
Ellya
M. Mashabi
Johana Satar
Hasnah Tahar
1970-an
A. Rafiq
Rhoma Irama
Elvy Sukaesih
Mansyur S.
Mukhsin Alatas
Herlina Effendi
Reynold Panggabean
Camelia Malik
Ida Laila
Setelah 1970-an
Vetty Vera
Nur Halimah
Hamdan ATT
Meggy Zakaria
Iis Dahlia
Itje Tresnawaty
Evi Tamala
Ikke Nurjanah
Kristina
Cici Paramida
Dewi Persik
Inul Daratista
Dangdut dalam budaya kontemporer Indonesia
Oleh Rhoma Irama, dangdut dijadikan sebagai alat berdakwah, yang jelas terlihat dari lirik-lirik lagu ciptaannya dan dinyatakan sendiri olehnya. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu polemik besar kebudayaan di Indonesia pada tahun 2003 akibat protesnya terhadap gaya panggung penyanyi dangdut dari Jawa Timur, Inul Daratista, dengan goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak moral".
Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan.
Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari nafas ini.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.
Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota.
Interaksi dengan musik lain
Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan mempengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut.
Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin.
Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.
Bangunan lagu
Meskipun lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif, sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada lagu-lagu masa Melayu Deli (contoh: Burung Nuri). Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.
Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin. Panjang intro dapat mencapai delapan birama.
Bagian awal tersusun dari delapan birama, dengan atau tanpa pengulangan. Jika terdapat pengulangan, dapat disela dengan suatu baris permainan jeda. Bagian ini biasanya berlirik pengantar tentang isi lagu, situasi yang dihadapi sang penyanyi.
Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik. Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.
Setelah bagian kedua, lagu diulang penuh dari awal hingga akhir. Lagu dangdut diakhiri pada pengulangan bagian pertama. Jarang sekali lagu dangdut diakhiri dengan fade away.
Musik Keroncong
Asal-usul
Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku.
Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan
serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini
disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak
lamban ritmenya), di mana salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali
kini dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik
dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan.
Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di
banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa
keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian
meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle
dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian,
musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai
lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.
Fado, Gereja Protestan dan Musik Keroncong
Seperti diketahui bahwa Musik Keroncong masuk ke Indonesia sekitar tahun 1512, yaitu pada waktu Ekspedisi Portugis pimpinan Alfonso de Albuquerque datang ke Malaka dan Maluku tahun 1512. Tentu saja para pelaut Portugis membawa lagu jenis Fado, yaitu lagu rakyat Portugis bernada Arab (tangga nada minor, karena orang Moor Arab
pernah menjajah Portugis/Spanyol tahun 711 - 1492. Lagu jenis Fado
masih ada di Amerika Latin (bekas jajahan Spanyol), seperti yang
dinyanyikan Trio Los Panchos atau Los Paraguayos, atau juga lagu di Sumatera Barat (budaya Arab) seperti Ayam Den Lapeh.
Pada waktu tawanan Portugis dan budak asal Goa (India)
di Kampung Tugu dibebaskan pada tahun 1661 oleh Pemerintah Hindia
Belanda (VOC), mereka diharuskan pindah agama dari Katholik menjadi
Protestan, sehingga kebiasaan menyanyikan lagu Fado menjadi harus
bernyanyi seperti dalam Gereja Protestan, yang pada tangga nada mayor.
Selanjutnya pada tahun 1880 Musik Keroncong lahir, dan awal ini Musik Keroncong juga dipengaruhi lagu Hawai yang dalam tangga nada mayor, yang juga berkembang pesat di Indonesia bersamaan dengan Musik Keroncong (lihat Musik Suku Ambon atau The Hawaian Seniors pimpinan Jenderal Polisi Hugeng).
Alat-alat musik
Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo.
Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai
oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh
komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara,
yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh
orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun
1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.
Pem-"pribumi"-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti
- sitar India
- rebab
- suling bambu
- gendang, kenong, dan saron sebagai satu set gamelan
- gong.
Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup
- ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong - crong sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong)
- ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F);
- gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);
- biola (menggantikan Rebab); sejak dibuat oleh Amati atau Stradivarius dari Cremona Itali sekitar tahun 1600 tidak pernah berubah modelnya hingga sekarang;
- flute (mengantikan Suling Bambu), pada Era Tempo Doeloe memakai Suling Albert (suling kayu hitam dengan lubang dan klep, suara agak patah-patah, contoh orkes Lief Java), sedangkan pada Era Keroncong Abadi telah memakai Suling Bohm (suling metal semua dengan klep, suara lebih halus dengan ornamen nada yang indah, contoh flutis Sunarno dari Solo atau Beny Waluyo dari Jakarta);
- selo; betot menggantikan kendang, juga tidak pernah berubah sejak dibuat oleh Amati dan Stradivarius dari Cremona Itali 1600, hanya saja dalam keroncong dimainkan secara khas dipetik/pizzicato;
- kontrabas (menggantikan Gong), juga bas yang dipetik, tidak pernah berubah sejak Amati dan Stradivarius dari Cremona Itali 1600 membuatnya;
Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas. Gitar yang kontrapuntis dan selo yang ritmis mengatur peralihan akord.
Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen
bawah. Flut mengisi hiasan atas, yang melayang-layang mengisi ruang
melodi yang kosong.
Bentuk keroncong yang dicampur dengan musik populer sekarang menggunakan organ tunggal serta synthesizer untuk mengiringi lagu keroncong (di pentas pesta organ tunggal yang serba bisa main keroncong, dangdut, rock, polka, mars).
Jenis keroncong
Musik keroncong lebih condong pada progresi akord
dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah
dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari
pola progresi akordnya.
Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu
keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang
berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola
tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta
adaptasi.
Perkembangan musik keroncong masa kini
Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang
Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung
Tugu tahun 1661 dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara crong-crong-crong, sehingga boleh dikatakan musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880.
Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini,
dengan tiga tahap perkembangan terakhir yang sudah berlangsung dan satu
perkiraan perkembangan baru (keroncong millenium). Tonggak awal adalah
pada tahun 1879 , di saat penemuan ukulele di Hawai yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong), sedangkan awal keroncong millenium sudah ada tanda-tandanya, namun belum berkembang (Bondan Prakoso).
Empat tahap masa perkembangan tersebut adalah
- (a) Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920),
- (b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan
- (c) Masa keroncong modern (1960-2000), serta
- (d) Masa keroncong millenium (2000-kini)
Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920)
Ukulele ditemukan pada tahun 1879 di Hawaii,
sehingga diperkirakan pada tahun berikutnya Keroncong baru menjelma
pada tahun 1880, di daerah Tugu kemudian menyebar ke selatan daerah
Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir,
sekitar tahun 1913). Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul,
yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan
Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya
pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera
maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan,
antar adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka,
gambus, dan keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada waktu itu
Stambul I, Stambul II, dan Stambul III.
Pada waktu itu lagu Stambul berirama cepat (sekitar meter 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Warga Kampung Tugu maupun Kusbini menyebut sebagai Keroncong Portugis, sedangkan Gesang menyebut sebagai Keroncong Cepat,
dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal
para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi
(perhatikan rekaman Idris Sardi
main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen dari M.
Sagi). Seperti diketahui bahwa panjang lagu stambul adalah 16 birama,
yang terdiri atas:
Stambul I:
Lagu ini misalnya Terang Bulan, Potong Padi, Nina Bobo, Sarinande, O
Ina Ni Keke, Bolelebo, dll. dengan struktur bentuk A - B - A - B atau A
- B - C - D (16 birama):
- |I , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |
- |, , , , |, , , , |, , , , |I , , , |
- |I7, , , |IV, , , |, , V7, |I , , , |
- |, , , , |V7, , , |, , , , |I , , , ||
Stambul II:
Lagu ini misalnya Si Jampang, Jali-Jali, di mana masuk pada Akord IV
sebagai ciri Stambul II dengan struktur A - B - A - C (16 birama):
- |I . . . |. . . . |. . . . |IV, , , | (tanda . artinya tacet)
- |, , , , |, , , , |, , V7, |I , , , |
- |, , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |
- |, , , , |, , , , |, , , , |I , , , ||
Stambul III:
Lagu ini misalnya Kemayoran, di mana mirip dengan Keroncong A sli
sehingga sering salah diucapkan dengan Kr. Kemayoran, yang seharusnya
Stambul III Kemayoran, dengan struktur Prelude - A - Interlude - B - C
(16 birama):
- Pr|I , , , |, , , , | Prelude 2 birama
- A1|, , , , |, , , , |
- A2|II#, , ,|V7, , , | Modulasi 2 birama
- In|, , , , |IV, , , | Interlude 2 birama
- B1|, , , , |I , , , |
- B2|V7, , , |I , , , |
- C1|, , , , |, , , , |
- C2|V7, , , |I , , , ||
Musiq Losquin Bugis: Dari periode tempo doeloe ini lahir pula di Makassar bentuk keroncong khas yang dikenal sebagai musiq losquin Bugis, misalnya lagu Ongkona Arumpone yang dinyanyikan oleh Sukaenah B. Salamaki. Irama keroncong ini, tanpa seruling-biola-cello, tapi dengan melodi guitar yang kental, mirip seperti gaya Tjoh de Fretes dari Ambon.
Kalau kita hubungkan kesemua ini, maka ada garis kesamaan dengan Orkes
Keroncong Cafrino Tugu (Kr. Pasar Gambir) – Orkes Keroncong Lief Java
(Kr. Kali Brantas) – Losquin Bugis (Ongkona Arumpone) – Orkes Hawaian
Tjoh de Fretes (Pulau Ambon), yaitu gaya era tempo doeloe dengan irama yang cepat sudah dengan kendangan cello dan dengan guitar melodi yang kental.
Masa keroncong abadi (1920-1960)
Pada masa ini panjang lagu telah berubah menjadi 32 birama, akibat
pengaruh musik pop Amerika yang melanda lantai dansa Hotel2 di
Indonesia pada waktu itu, dengan musisi didominasi dari Filipina (spt
Pablo, Sambayon, dll), dan berakibat juga lagu pada waktu itu telah 32
birama juga, perhatikan lagu Indonesia Raya (diciptakan tahun 1924)
pada waktu itu juga sudah 32 birama. Selanjutnya pusat perkembangan
beralih ke timur mengikuti jaringan kereta api melalui Solo dan
iramanya juga lebih lamban (sekitar 80 untuk seperempat nada) dengan
kendangan cello mirip kendangan gamelan, dan permainan gitar melodi
mirip alunan siter musik gamelan yang kontrapuntis. Masa ini lahir para
musisi Solo, seperti Gesang dan penyanyi legendaris Annie Landouw. Lagu Keroncong Abadi terdiri atas: Langgam Keroncong, Stambul Keroncong, dan Keroncong Asli.
Langgam Keroncong
Bentuk lagu langgam ada dua versi. Yang pertama A - A - B - A dengan
pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar pop: Verse A -
Verse A - Bridge B - Verse A, panjang 32 birama. Beda sedikit pada
versi kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah
memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas
diekspresikan. Penyanyi serba bisa Hetty Koes Endang
misalnya, dia sering merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam
menggunakan irama yang sama, dan kebanyakan tetap dinamakan langgam.
Alur akord-nya sebagai berikut:
- Verse A | V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
- Verse A |V7 , , , | I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
- Bridge B |I7 , , , |IV , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | II# , , , | II# , , , | V , , ,|
- Verse A |V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
Stambul Keroncong:
Stambul Keroncong berbentuk (A-B-A-B') x 2 = 16 birama x 2 = 32
birama, merupakan modifikasi Stambul II yang 16 birama menjadi 32
birama (menyesuaikan standar Keroncong Abadi yang 32 birama). Stambul
merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara
yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di
Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama "stambul" diambil dari Istambul di Turki.
Alur akord Stambul Keroncong adalah sbb. (tanda - adalah tacet atau iringan tidak dibunyikan):
- |I - - - | - - - - | - - - - |IV , , , | dibuka dg broken chord I utk mencari nada
- |IV , , , |IV , , , |IV , V ,|I , , , |
- |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
- |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
- |I , , , |I , , , |I , , , |IV , , , | 16 birama ini pengulangan dari 16 birama pertama atau sama
- |IV , , , |IV , , , |IV , V , |I , , , |
- |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
- |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
Keroncong Asli
Keroncong asli memiliki bentuk lagu A - B - B'. Lagu terdiri atas 8
baris, 8 baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka dengan PRELUDE 4
birama yang dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi INTERLUDE
standar sebanyak 4 birama yang dimainkan secara instrumental juga.
Keroncong asli diawali oleh voorspel atau prelude, atau intro
yang diambil dari baris 7 (B3) mengarah ke nada/akord awal lagu, yang
dilakukan oleh alat musik melodi seperti seruling/flut, biola, atau
gitar; dan tussenspel atau interlude atau intermezzo di tengah-tengah setelah modulasi/modulatie/modulation yang standar untuk semua keroncong asli: Alur akordnya seperti tersusun di bawah ini:
- Pr |V , , , |I , I7 , |IV , V7 , |I , , , | Prelude 4 birama diambil dari baris ke-7 (B3)
- (A1) | I , , , | I , , , | V , , , | V , , , |
- (A2) |II# , , , | II# , , , | V , , , | Modulasi merupakan ciri keroncong asli sebanyak 4 birama
- In |V , , , | V , , , | V , , , |IV , , , | Interlude 4 birama untuk semua lagu menjadi standar
- (B1) | IV , , ,| IV , , ,|V7 , , , | I , , , |
- (B2) |I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , I7 , |
- (B3) |IV , V7 , |I , I7 , | IV , V7 , |I , , , |
- (B2) | I , , , | V7 , , , | V7 , , ,| I , , , |
Kadensa Keroncong Dalam Teori Musik Klasik dikenal 4 (empat)
jenis Kadensa, di mana Kadensa adalah suatu rangkaian harmoni sebagai
penutup pada akhir melodi atau di tengah kalimat, sehingga bisa menutup
sempurna melodi tersebut atau setengah menutup (sementara) melodi
tersebut. Sedangkan Tierce de Picardy boleh dimasukan dalam Kadensa,
dan pada Masa Keroncong Abadi tercipta satu Kadensa baru, disebut
Kadensa Keroncong dengan rangkaian penutup I-I7-IV-V7-I.
- Kadensa dengan rangkaian V7-I disebut sebagai Kadensa Sempurna, karena sempurna menutup rangkaian tersebut dan terasa berhenti sempurna.
- Tetapi kalau akord X-V7 menjadi akhir rangaian, maka disebut Kadensa Tidak Sempurna atau Setengah Kadensa, misalnya rangkaian Super Tonik - Dominan Septim.
- Kalau rangkaian harmoni diakhiri pada X-VI, maka disebut Kadensa Terputus, misalnya Doninan Septim - Submedian.
- Dalam rangkaian IV-I disebut Kadensa Plagal, mempunyai sifat sendu seperti kalau kita mengucap "Amin" dalam salat.
- Lagu kunci minor ditutup pada kunci mayor, disebut Tierce de Piecardy, jadi sebenarnya bukan kadensa, namun biasanya dipakai dalam akhir lagu
- Kadensa Keroncong, khusus dikembangkan dalam musik keroncong, yaitu rangkaian harmoni I7-IV-V7-I
Ismail Marzuki (1914-1958) Komponis Ismail Marzuki termasuk hidup dalam Era Keroncong Abadi, namun lagu-lagunya sangat modern pada zamannya, misalnya Sepasang Mata Bola ditulis dalam kunci minor sehingga dapat dinyanyikan dengan iringan keroncong seperti keroncong beat (1958).
Gambang Keromong Gambang Keromong adalah salah satu gaya
keroncong yang dikembangkan oleh Etnis Tionghoa (gambang adalah alat
musik bilah kayu seperti marimba, sedangkan keromong adalah istilah
lain dari kempul) yang dikembangkan sekitar tahun 1922 di Kemayoran
Jakarta (tanjidor), namun kemudian berkembang di Semarang sekitar tahun
1949 (ingat lagu Gambang Semarang - Oey Yok Siang). Sebenarnya Gambang
Keromong yang lahir di Masa Keroncong Abadi 1920-1960 adalah cikal
bakal Campursari yang lahir pada Masa Keroncong Modern.
Masa Keemasan (The Golden Age). Pada tahun 1952, Radio
Republik Indonesia (RRI) menyelenggarakan perlombaan Bintang Radio
dengan 3 jenis, Keroncong, Hiburan dan Seriosa. Di sanmping itu juga
dilombakan mencipta lagu keroncong, salah satu pememnag adalah Musisi
Kusbini dengan lagu Keroncong Pastoral. Pada masa akhir dari Keroncong
Abadi (1920-1960) ini merupakan Masa Keemasan (Golden Age) bagi musik
keroncong.
Masa keroncong modern (1960-2000)
Perkembangan keroncong masih di daerah Solo dan sekitarnya, namun
muncul berbagai gaya baru yang berbeda dengan Masa Keroncong Abadi
(termasuk musisinya), dan merupakan pembaruan sesuai dengan
lingkungannya.
Mulai Masa keroncong modern (1960-2000) semua aturan baku (pakem) Musik Keroncong tidak berlaku, karena mengikuti aturan baku (pakem) Musik Pop yang berlaku universal, misalnya tangga nada minor, moda pentatonis Jawa/Cina, rangkaian harmoni diatonik dan kromatik, akord disonan, sifat politonal atau atonal (pada campursari), tidak megenal lagi pakem bentuk keroncong asli atau stambul, ada irama nuansa dangdut (congdut), mulai tahun 1998 musik rap mulai masuk (Bondan Prakoso), dlsb.
Langgam Jawa
Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa,
yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa memiliki
ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa
diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk
berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama
dimulai secara utuh. Tahun 1968 Langgam Jawa berkembang menjadi Campursari.
Umumnya mempunyai struktur lagu pop yaitu A - A - B - A atau juga A
- B - C - D dangan jumlah 32 birama. Lagu Langgam Jawa yang terkenal di
tahun 1958 adalah ciptaan Anjar Any (1936-2008): Yen Ing Tawang Ana
Lintang (Tawang dalam Bahasa Jawa berarti: awang-awang, langit, dan makna lain nama suatu desa di Magetan, Kalau di Langit Ada Bintang). Langgam Jawa menjadi terkenal oleh Waljinah yang pernah sebagai juara tingkat sekolah SMP di RRI Solo tahun 1958.
Keroncong Beat
Dimulai oleh Yayasan Tetap Segar pimpinan Rudy Pirngadie, di Jakarta
pada tahun 1959 dan bisa mengiringi lagu barat pop (mau melangkah lebih
bersifat universal). Pada waktu itu Idris Sardi ikut tur ke New York
World's Fair Amerika Serikat dengan biola tahun 1964 dengan maksud mau memperkenalkan lagu pop barat (I left my heart in San Fransico,
pada waktu itu tahun 1964 lagu ini merupakan salah satu hit di dunia)
dengan iringan keroncong beat, namun dia kena denda melanggar hak cipta akibat tanpa izin.
Dengan Keroncong Beat maka berbagai lagu (bukan dengan rangkaian
harmoni keroncong, termsuk kunci Minor) dapat dinyanyikan seperti La
Paloma, Monalisa, Widuri, Mawar Berduri, dll.
Campur Sari
Di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) pada tahun 1968 Manthous memperkenalkan gabungan alat gamelan dan musik keroncong, yang kemudian dikenal sebagai Campursari. Kini daerah Solo, Sragen, Ngawi, dan sekitarnya, terkenal sebagai pusat para artis musik campursari. Bahkan Bupati Sukoharjo ikut meramaikan bursa campursari.
Keroncong Koes-Plus
Koes Plus
dikenal sebagai perintis musik rock di Indonesia, pada sekitar tahun
1974 juga berjasa dalam musik keroncong yang rock. Keroncong Pertemuan
adalah Keroncong Koes Plus dengan struktur bentuk campuran (dalam
bahasa Belanda disebut Meng-vorm atau Inggris Combine form) antara
Stambul II dan langgam Keroncong.
Seandainya band rock Indonesia bisa mengikuti jejak Koes-Plus untuk
melestarikan budaya sendiri seperti keroncong, maka betapa indah musik
rock Indonesia dapat ngetop dengan irama kampung halaman, berarti musik keroncong jangan mati (ucapan Gesang). Mudah-mudahan Mbah, generasi muda Indonesia dapat melanjutkan musik keroncong .
Keroncong Dangdut (Congdut)
Keroncong dangdut (Congdut) adalah jawaban atas derasnya pengaruh musik dangdut
dalam musik populer di Indonesia sejak 1980-an. Seiring dengan
menguatnya campur sari di pentas musik populer etnis Jawa, sejumlah
musisi, konon dimulai dari Surakarta, memasukkan unsur beat dangdut ke dalam lagu-lagu langgam Jawa klasik maupun baru. Didi Kempot adalah tokoh utama gerakan pembaruan ini. Lagu-lagu yang terkenal antara lain Stasiun Balapan, Sewu Kuto.
Masa Kejayaan Musik Keroncong. Pada Masa Keroncong Modern
adalah Masa Kejayaan Musik Keroncong, di mana terdengar di mana-mana
musik Langgam Jawa, Keroncong Beat, Campursari, koes Plus dan terakhir
dengan Congdut dari Didi Kempot, hingga ke Suriname dan Belanda
(2004-2008). Rupa-rupanya ini merupakan puncak kejayaan Musik
Keroncong, sehingga Gesang khawatir bahwa Keroncong Akan Mati (2008,
ucapan beliau sebelum wafat).
Masa keroncong millenium (2000-kini)
Walaupun musik keroncong di era millenium (tahun 2000-an) belum
menjadi bagian dari industri musik pop Indonesia, tetapi beberapa pihak
masih mengapresiasi musik keroncong. Kelompok musik Keroncong Merah
Putih, kelompok keroncong berbasis Bandung masih cukup aktif melakukan pertunjukan. Selain itu, Bondan Prakoso
dan grupnya Bondan Prakoso & Fade 2 Black, menciptakan komposisi
berjudul "Keroncong Bondol" yang berhasil memadukan musik gaya rap
dengan musik latar belakang irama keroncong. Pada tahun 2008 @ Solo
International Keroncong Festival, Harmony Chinese Music Group membuat suasana lain dengan memasukan unsur alat musik tradisional Tionghoa dan menamainya sebagai Keroncong Mandarin .
Tokoh keroncong
Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang
karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu
lagunya yang paling terkenal adalah(lagu)|Bengawan Solo. Lantaran
pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki "Buaya Keroncong" oleh insan
keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong. Gesang
menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang
di Jakarta (Tugu , Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat;
sedangkan setelah pusat perkembangan pindah ke Solo (MASA KERONCONG
ABADI: 1920-1960) iramanya menjadi lebih lambat.
Asal muasal sebutan "Buaya Keroncong" untuk Gesang berkisar pada lagu ciptaannya, "Bengawan Solo". Bengawan Solo adalah nama sungai yang berada di wilayah Surakarta. Seperti diketahui, buaya memiliki habitat di rawa dan sungai. Reptil
terbesar itu di habitanya nyaris tak terkalahkan, karena menjadi
pemangsa yang ganas. Pengandaian semacam itulah yang mendasari mengapa
Gesang disebut sebagai "Buaya Keroncong".
Di sisi lain nama Anjar Any (Solo, pencipta Langgam Jawa
lebih dari 2000 lagu yang meninggal tahun 2008) juga mempunyai andil
dalam keroncong untuk Langgam Jawa beserta Waljinah (Solo), sedangkan R. Pirngadie (Jakarta) untuk Keroncong Beat, Manthous (Gunung Kidul, Yogyakarta) untuk Campursari dan Koe Plus (Solo/Jakarta) untuk Keroncong Rock, serta Didi Kempot (Ngawi) untuk Congdut.
Kamis, 16 Februari 2012
Sejarah Musik Indonesia
NKRI adalah sebuah negara yang meliputi
ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana dari
sekian banyaknya kepulauan beserta masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh
dan berkembang berbagai budaya daerah. Seni tradisional yang merupakan
jati diri, identitas dan media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.
Hampir seluruh wilayah NKRI mempunyai
seni musik tradisional yang khusus dan khas. Dari keunikan tersebut bisa
nampak terlihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun
bentuk/organologi instrumen musiknya. Seni tradisonal itu sendiri
mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi, sehingga dapat dikenali
karakter dan ciri khas masyarakat Indonesia, yaitu yang terkenal ramah
dan santun.
Untuk lebih mengenal lebih dekat musik tradisional kita dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok yaitu :
1. Instrumen Musik Perkusi.
Perkusi adalah sebutan bagi semua
instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan
tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang
tergolong dalam alat musik perkusi adalah Gamelan, Kendang, Kecapi,
Arumba, Talempong, Sampek dan Kolintang, Rebana, Bedung, Jimbe dan lain
sebagainya.
a. Gamelan adalah alat musik
yang terbuat dari bahan logam, gamelan berasal dari daerah Jawa tengah,
Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat disebut dengan Degung dan di
Bali disebut Gamelan Bali. Satu perangkat gamelan terdiri dari instrumen
saron, demung, gong, kenong, slentem, bonang, peking, gender dan
beberapa instrumen lainnya. Disamping itu gamelan mempunyai nada
pentatonis/pentatonic.
b. Kendang adalah sejenis alat
musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan (kambing).
Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia. Di
daerah Jawa Barat kendang mempunyai peranan penting dalam tarian
Jaipong. Di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali kendang selalu
digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi tarian, wayang
dan ketoprak. Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di
jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias. Rebana adalah jenis alat musik
yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam. rebana
dapat dijumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.
c. Kecapi adalah alat musik
petik yang berasal dari daerh Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi
adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu
tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang menyerupai
kecapi adalah siter dari Jawa Tengah.
d. Arumba (alunan rumpun bambu)
berasal dari daereah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat
dari bahan bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pad awalnya
arumba menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya
menggunakan tangga nada diatonis.
e. Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau. Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do).
f. Sampek (sampe/sapek) adlah
alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal dari daerah
Kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang dipenuhi dengan
ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya
menyerupai sampek adalah Hapetan dari daerah Tapanuli, Jungga dari
Sulawesi Selatan.
g. Kolintang atau kulintang
berasal dari daerah Minahasa. Alat musik ini mempunyai tangga nada
diatonis yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis.
Bahan dasar dibuat dari kayu dan cara untuk memainkan alat musik ini di
pukul dengan menggunakan stik.
h. Sasando adalah alat musik
petik berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur, kecapi ini terbuat dari
bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya di buat dari
anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah bulatan.
2. Instrumen Musik Gesek.
Instrumen musik tradisional yang
menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari
daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi). Rebab terbuat
dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai
dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis. Instrumen
musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah
Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa. Rebab jenis ini
dapat dijumpai di Bali, Jawa dan Kalimantan Selatan.
3. Instrumen Musik Tiup.
Suling adalah instrumen musik tiup yang
terbuat dari bambu hampir semua daerah di Indonesia dapat dijumpai alat
musik ini. Saluang adalah alat musik tiup dari Sumatera Barat, serunai
dapat dijumpai di Sumatera Utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal
dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40 – 100 cm dengan
garis tengah 2 cm.
Tarompet, serompet, selompret adalah
jenis alat musik tiup yang mempunyai 4 – 6 lubang nada dan bagian untuk
meniupnya berbentuk corong. Seni musik tradisional yang menggunakan alat
musik seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa
Timur, Madura dan Papua
Langganan:
Postingan (Atom)