Senin, 20 Februari 2012

Campursari

Mungkin banyak diantara kita semua yang bingung dan bertanya apa itu Campursari? Campursari adalah musik tradisional masyarakat jawa. Musik ini diperkirakan lahir pada dekade "60-an di daerah Jawa Tengah. Musik campursasri dimainkan dengan alat musik gamelan yang terdiri dari: Slenthem, Peking, Kendang, Gong, Bonang/tidak semua bagian, di tambah suling. Untuk melengkapi khasanah musiknya, gamelan tersebut dipadukan dengan alat musik modern seperti: gitar dan keyboard.

Pada awal kemunculan musik campursari sempat menimbulkan pertentangan dengan pegiat kesenian yang lain. Hal ini dianggap menurunkan citra keagungan kesenian tradisonal jawa yang terkenal dengan kebudayaan keratonnya yang adiluhung.

Musik campursari mulai terkenal seiring meroketnya nama Waldjinah dan Manthous ( Sumanto-red ) pada awal berkembangnya dulu. Manthous yang mengusung bendera CSGK ( Campur Sari Gunung Kidul ) merupakan musisi campursari yang terkenal. Pria yang lahir pada tahun 1950 ini menelurkan sejumlah lagu, namun yang  fenomenal adalah kutut manggung. Sayang karir musiknya meredup setelah dia mengidap stroke.

Setelah Manthous mulai menurun pamornya, muncul beberapa musisi campursari yang terkenal kemudian. Nama-nama Didi Kempot, Sonny Joss, Cak Diqin sampai penyanyi campursari baru seperti Soimah bergantian menghiasi blantika musik campursari.


Didi kempot pria kelahiran 31 desember 1966 ini membuat citra musik campursari semakin meroket. Pria asal kota Solo tersebut sampai saat ini merupakan penyanyi campursari paling produktif. Sampai hari ini Didi Kempot telah menghasilkan sekitar 72 album ( Berdasarkan wawancaranya beberapa lalu di acara talk show Pas Mantab trans 7 ). Lagunya yang cukup terkenal antara lain: Sewu Kutha, Stasiun Balapan, Tirtonadi, Tanjung Mas Ninggal Janji, Taman jurug, Pak rebo, Cucak Rawa dan masih banyak lagi. Sampai hari ini Didi telah melanglang ke beberapa negara seperti Hawai, Suriname, Belanda dan masih banyak lagi untuk memperkenalkan musik Campursari ke penjuru dunia. Selain itu Didi Kempot yang merupakan adik dari Mamiek Srimulat juga berkolaborasi dan menggubah musik lain untuk dijadikan lagu campursari. Dia pernah kolaborasi sama Dedy Dores dan menggubah lagu dari Peterpan.

Satu nama penyanyi baru di blantika campursari yang cukup menarik perhatian adala Soimah. Wanita kelahiran Pati, 29 september 1980 ini berani melakukan terobosan di ranah musik campurasari. Soimah memadukan musik campur sari dengan Hip hop, tepatnya dengan kelompok hip hop Jogja. Hip hop Jogja sendiri merupakan penyanyi hip-hop dengan spesialisasi menyanyikan lagu jawa.

Karena merakyatnya musik campursari di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur itu, maka tak jarang musik ini juga digunakan oleh para politikus untuk menjaring masa pada saat pemili dan pemilukada. Bahkan di Jateng beberapa pasangan kandidat Gubernur-Wakil Gubernur berlomba menggubah syair lagu campursari untuk theme song kampanyenya.

Perkembangan musik campursari sebagai musik rakyat kecil tak lepas dari pengangkatan tema yang simple dan dekat dengan masyarakat kecil. Karena itu tak jarang Campursari diidentikkan dengan musiknya kaum marjinal/rakyat jelata. Tema yang diangkat untuk lagu campursari mulai dari cinta dan kesedihan, tentang wong cilik, tentang menikmati hidup. Tak heran kenapa musik ini begitu merakyat dan hampir selalu hadir di acara-acara hajatan rakyat biasa.

Dalam prakteknya musik campursari cenderung menggunakan bahasa sehari-hari untuk bahasa lagunya. Tidak seperti langgam jawa yang menggunakan bahasa kesusatraan jawa, Campursari menggunakan bahasa umum di masyarakat atau istilahnya bahasa pasaran. Sehingga bagi kita yang mendengarkan lagu campursari tidak harus berpikir terlalu dalam untuk mengetahui makna dari lagu tersebut.

Selain itu lagu campursari banyak sekali mengangkat kisah hidup wong cilik. Kisah bagaimana susahnya rakyat kecil mencari kerjaan, memenuhi hajat hidupnya. Ataupun bagaimana dalam sebuah lagu kita bisa menangkap kesan kesederhanaan yang terpancar di dalamnya seperti contohnya lagu Kuncung yang dinyanyikan Didi Kempot.

Dalam lirik lagu campursari kadang juga kita temukan kesederhanaan pola pikir dengan bahasa yang gamblang. Semisal syair lagu "aku milih liyane, ora sudi milih kowe, nganggur ora nyambut gawa, paling2 dadi kere” syair lagu ini artinya sangat sederhana, Aku memilih yang lain, gak mau memilih kamu, pengangguran yang tak punya kerjaan. Simple memandang sesuatu banget.

Lagu Campursari juga sering bercerita tentang kisah cinta yang mendayu-dayu. Seperti nampak pada syair lagu sewu kutha " Sewu kutha uwes tak liwati, Sewu ati tak takoki, Nanging kabeh podo ra ngerteni, lungamu nang endi' pirang tahun anggonku nganteni, semono rung bisa nemoni"  yang artinya Seribu kota telah kulewati, Seribu hati telah kutanya, Tapi semua tiada yang tahu, Pergimu ke mana, Entah berapa tahun kumenanti, Sampai sekarang belum bisa menemukan. Sangat sederhana dan gampang mencerna kalimatnya kan.

Sejauh ini perkembangan campursari masih sangat bagus. Beberapa perlombaan diadakan untuk menjaring bibit penyanyi baru. Tak hanya itu, penyanya campursari tak segan untuk mengeksplor musik campursari dengan jenis musik lainnya. Bahkan di daerah Jawa Timur musik campursari dikolaborasikan dengan dangdut koplo, meski sayangnya malah terkesan merusak ruh lagu tersebut dengan masuknya tarian erotis di dalamnya.

Kendang Kempul

Di Jawa Timur berkembang pula musik etnic yang hampir mirip dengan campursari, yakni musik kendang kempul yang berkembang di Banyuwangi dan sekitarnya. Musik ini hampir berbarengan munculnya dengan campursari. Namun alat musik yang digunakan hanya Kendang, Kempul dan suling yang digabungkan dengan gitar dan keyboard serta seringkali juga biola.

Musik kendang kempul ini selain berkembang di Banyuwangi, juga merambah ke daerah sekitarnya. Sebut saja Jember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo dan sekitarnya. Tak jarang lagu-lagu kendang kempul dinyanyikan ulang dengan versi dangdut oleh Orkes Palapa dan Monata.

Nama-nama penyanyi kendang kempul yang terkenal antara lain Sumiati, Alif S, Pelawak Cahyono, Emilia Contessa. Dari generasi yang lebih muda muncul nama Niken Arisandi, Catur ARum, Dyan Ratih, Renny Farida, Adestya Mayasari dan masih banyak lagi.

Pada perkembangannya musik ini juga tercampur dengan dangdut versi koplo. Masuknya unsur koplo ini juga menimbulkan pertentangan di antara pegiat seni kendang kempul. Banyak pencipta lagu yang tidak mau lagunya dinyanyikan dengan versi Kendang kempul Koplo, meski dengan royalti yang besar.

Selain itu pada perkembangannya, selain unsur dangdut koplo. Kendang kempul juga mulai mencoba dikolaborasikan dengan beberapa musik yang terkenal sebut saja musik reaggea dan beberapa musik lainnya. Bahkan penyanyi sekaliber Nini Karlina dan Ikke Nurjannah pun pernah menggubah lagu Banyuwangi untuk album dangdut mereka.

Kesamaan dari kedua musik yang berkembang di jawa itu sama-sama kental bercerita tentang masalah hidup wong cilik, masalah cinta, masalah menikmati hidup dan juga nasehat yang sering disisipkan dalam syair lagunya.

Mari kita lestarikan musik etnik kita masing-masing. Jangan sampai tergerus oleh kemajuan jaman.

Sejarah Perjalanan Musik dangdut Indonesia







Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi).

Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.

Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu.

Berikut adalah nama-nama beberapa tokoh penyanyi dan pencipta lagu dangdut populer yang dibagi dalam tiga kelompok kronologis, sesuai dengan perkembangan musik dangdut:

Pra-1970-an
Husein Bawafie
Munif Bahaswan
Ellya
M. Mashabi
Johana Satar
Hasnah Tahar
1970-an
A. Rafiq
Rhoma Irama
Elvy Sukaesih
Mansyur S.
Mukhsin Alatas
Herlina Effendi
Reynold Panggabean
Camelia Malik
Ida Laila
Setelah 1970-an
Vetty Vera
Nur Halimah
Hamdan ATT
Meggy Zakaria
Iis Dahlia
Itje Tresnawaty
Evi Tamala
Ikke Nurjanah
Kristina
Cici Paramida
Dewi Persik
Inul Daratista

Dangdut dalam budaya kontemporer Indonesia

Oleh Rhoma Irama, dangdut dijadikan sebagai alat berdakwah, yang jelas terlihat dari lirik-lirik lagu ciptaannya dan dinyatakan sendiri olehnya. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu polemik besar kebudayaan di Indonesia pada tahun 2003 akibat protesnya terhadap gaya panggung penyanyi dangdut dari Jawa Timur, Inul Daratista, dengan goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak moral".

Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan.

Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari nafas ini.

Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.

Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota.

Interaksi dengan musik lain

Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan mempengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut.

Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin.

Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.

Bangunan lagu

Meskipun lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif, sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada lagu-lagu masa Melayu Deli (contoh: Burung Nuri). Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin. Panjang intro dapat mencapai delapan birama.

Bagian awal tersusun dari delapan birama, dengan atau tanpa pengulangan. Jika terdapat pengulangan, dapat disela dengan suatu baris permainan jeda. Bagian ini biasanya berlirik pengantar tentang isi lagu, situasi yang dihadapi sang penyanyi.

Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik. Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.

Setelah bagian kedua, lagu diulang penuh dari awal hingga akhir. Lagu dangdut diakhiri pada pengulangan bagian pertama. Jarang sekali lagu dangdut diakhiri dengan fade away.